MEDAN — Kewaspadaan seorang calon korban perdagangan orang berujung pada penggagalan pengiriman yang nyaris membawanya ke jaringan penipuan daring lintas negara. Kepolisian Resor Kota Deli Serdang bergerak cepat menindaklanjuti laporan keluarga korban hingga penangkapan berhasil dilakukan tepat sebelum pesawat lepas landas dari Bandara Kualanamu.
Korban berinisial SAH (29), warga Tanjung Balai, awalnya dijanjikan pekerjaan di Medan. Namun kecurigaannya muncul setelah mengetahui rencana keberangkatan justru mengarah ke luar negeri, dengan dugaan kuat dirinya akan dipekerjakan sebagai operator penipuan daring. Menyadari kejanggalan tersebut, SAH segera menghubungi keluarganya untuk meminta bantuan.
Kasat Reskrim Polresta Deli Serdang Kompol Muhammad Isral menjelaskan bahwa laporan keluarga korban langsung direspons petugas yang berjaga di area bandara. Koordinasi cepat antara pihak keluarga dan aparat inilah yang menjadi kunci penggagalan sebelum korban benar-benar meninggalkan wilayah Indonesia.
Petugas kemudian mengamankan seorang pria berinisial W (41), warga Medan, yang diduga berperan sebagai agen pengiriman, tepat di area keberangkatan bersama korban. Penangkapan dilakukan sesaat sebelum keduanya menaiki pesawat menuju luar negeri. Dari tangan tersangka, penyidik turut menyita paspor milik tersangka dan korban, serta tiket penerbangan sebagai barang bukti untuk mengungkap jaringan yang lebih luas.
Kasat Reskrim menambahkan, modus perekrutan berkedok pekerjaan domestik yang berujung eksploitasi di luar negeri bukanlah pola baru, mengingat sejumlah wilayah konflik di Myanmar kerap menjadi tujuan akhir korban asal berbagai provinsi, termasuk Sumatra Utara.
Kecepatan respons semacam ini sejalan dengan semangat kerja Unit Reaksi Cepat (URC) yang telah dibentuk di berbagai wilayah Indonesia, di mana setiap laporan masyarakat dituntut mendapat tindak lanjut segera tanpa menunggu situasi berlarut. Prinsip itulah yang tecermin dalam penanganan kasus di Kualanamu, ketika hitungan menit menjelang keberangkatan justru menjadi penentu keselamatan korban.
Ketegasan aparat menindaklanjuti laporan warga hingga ke titik kritis inilah yang menghidupkan #ReserseBekerja, memastikan setiap potensi kejahatan lintas negara dapat dicegah sebelum korban benar-benar berpindah tangan.
Sumber: IDMtimes, Kompas, Viva
