Indo2global.com – Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, kini berjuang bertahan hidup di tengah kelaparan akut di Gaza dan situasi yang terus digempur konflik. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa kelaparan telah menyebabkan kematian puluhan warga, sebagian besar adalah anak-anak.
Seorang ayah di Gaza mengungkapkan kesedihannya ketika kedua anaknya menangis karena tidak makan selama empat hari. Ia mengaku nekat pergi ke pusat distribusi bantuan demi mendapatkan tepung terigu, meskipun ancaman tembakan dan kekacauan mengintai setiap langkahnya.
“Apakah saya harus menyelamatkan yang terluka, mengangkat jenazah, atau mencari tepung? Saya rela mati demi anak-anak saya bisa makan,” ucapnya dengan putus asa.
Kondisi tersebut mencerminkan situasi yang lebih luas di Gaza. Data dari rumah sakit menunjukkan bahwa sekitar 900.000 anak mengalami kelaparan, dan 70.000 di antaranya teridentifikasi mengalami malnutrisi. Dalam tiga hari terakhir, sedikitnya 21 anak dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan bahwa dalam dua hari terakhir, 33 orang – termasuk 12 anak – meninggal karena kelaparan. Jumlah total kematian akibat kekurangan gizi sejak konflik kembali memanas pada 2023 telah mencapai 101 jiwa.
Situasi makin memburuk sejak Gaza menghadapi blokade total selama lebih dari 11 minggu. Blokade ini menghambat masuknya pasokan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan. Harga bahan pokok pun melonjak drastis. Harga satu kilogram tepung terigu di pasar lokal dilaporkan menembus angka US$100 atau sekitar Rp1,6 juta.
Satu-satunya harapan bagi warga Gaza kini tertumpu pada distribusi bantuan kemanusiaan dari lembaga seperti Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Namun, keberadaan GHF menuai kontroversi karena banyak insiden kekerasan yang terjadi di sekitar lokasi distribusinya.
Menurut laporan lembaga HAM internasional, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas sejak GHF mulai beroperasi pada akhir Mei. Dari jumlah itu, 766 orang tewas di sekitar lokasi bantuan GHF, sementara 288 lainnya kehilangan nyawa di dekat konvoi bantuan organisasi kemanusiaan lainnya.
Warga Gaza menyebut bantuan itu sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi menyelamatkan nyawa, namun di sisi lain membawa ancaman. “Kami hanya ingin makan. Tapi yang kami dapat adalah darah,” kata seorang saksi yang melihat temannya tertembak di dekat pusat distribusi.
Sementara itu, Israel membantah tuduhan adanya kelangkaan bantuan. Mereka mengklaim telah mengizinkan ribuan truk bantuan masuk ke Gaza dan menuding Hamas menyalahgunakan bantuan tersebut untuk kepentingan kelompoknya.
Namun, komunitas internasional mulai bersuara. Sebanyak 28 negara menyerukan diakhirinya konflik dan menyebut sistem distribusi bantuan Israel tidak manusiawi. Mereka mengecam tindakan yang memperparah penderitaan warga sipil yang sudah terjebak dalam kelaparan ekstrem.
Konflik terus berlanjut, dan penderitaan dan kelaparan rakyat Gaza belum menunjukkan tanda akan berakhir. Dengan akses pangan dan obat yang terbatas, serta meningkatnya kekerasan di area bantuan, Gaza kini berada di ambang bencana kemanusiaan yang lebih besar.
