Indo2global.com – Publik di China tengah ramai membahas dugaan adanya celah keamanan pada chip H20 buatan Nvidia, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat. Chip tersebut dituding memiliki backdoor access, yaitu metode tersembunyi yang memungkinkan pihak tertentu melewati sistem otentikasi atau kontrol keamanan perangkat.
Isu ini mencuat setelah sebuah akun media sosial yang diduga berafiliasi dengan media pemerintah China mengunggah artikel melalui platform WeChat. Artikel tersebut diterbitkan oleh Yuyuan Tantian, yang dikaitkan dengan jaringan penyiaran nasional. Dalam tulisannya, H20 dinilai bukan chip berteknologi mutakhir dan tidak ramah lingkungan.
“Ketika suatu jenis chip tidak ramah lingkungan, tidak canggih, atau tidak aman, konsumen memiliki pilihan untuk tidak membelinya,” tulis artikel tersebut.
Chip H20 dikembangkan Nvidia khusus untuk pasar China setelah pemerintah Amerika Serikat memberlakukan pembatasan ekspor chip kecerdasan buatan (AI) berteknologi tinggi pada akhir 2023. Pembatasan itu diberlakukan di masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Larangan penjualan berlaku pada April 2025 di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China. Namun, kebijakan tersebut dibatalkan pada Juli tahun yang sama.
Meski larangan dicabut, sorotan publik terhadap keamanan produk ini justru meningkat. Pada 31 Juli 2025, badan pengawas media sosial China memanggil pihak Nvidia untuk memberikan penjelasan terkait potensi risiko keamanan pada chip H20. Pertemuan tersebut difokuskan pada isu dugaan adanya backdoor access yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses atau mengendalikan perangkat dari jarak jauh.
Menanggapi tuduhan tersebut, Nvidia menyatakan bahwa produknya tidak memiliki celah keamanan yang memungkinkan akses atau kontrol jarak jauh tanpa izin. Perusahaan menegaskan bahwa chip H20 dirancang untuk memenuhi standar keamanan dan kinerja yang berlaku di industri.
Meski demikian, artikel Yuyuan Tantian mengklaim bahwa chip tersebut memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi tertentu, termasuk pematian jarak jauh. Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran sebagian pihak di China terhadap keamanan dan keandalan perangkat keras yang diimpor dari luar negeri, terutama dari AS.
Dugaan ini menambah daftar panjang perselisihan teknologi antara kedua negara. Selama beberapa tahun terakhir, AS dan China kerap bersitegang terkait kontrol ekspor, keamanan siber, hingga pengaruh industri teknologi terhadap keamanan nasional. Produk-produk teknologi yang melibatkan pemrosesan data sensitif kerap menjadi sasaran pemeriksaan ketat oleh regulator di kedua negara.
Hingga kini, belum ada bukti publik yang mengonfirmasi keberadaan backdoor access pada chip H20. Meski demikian, perdebatan di ruang publik terus berlanjut, terutama di media sosial China yang menjadi saluran utama penyebaran opini dan informasi. Pengamat menilai, isu ini berpotensi memengaruhi kepercayaan pasar terhadap produk Nvidia di China, sekaligus mempertegas dinamika hubungan dagang antara Beijing dan Washington.
Dengan perhatian publik yang semakin besar, perkembangan kasus ini kemungkinan akan terus dipantau secara ketat, baik oleh regulator, pelaku industri, maupun konsumen di kedua negara.
